PUTRI
TIDUR
Dahulu kala ada sepasang Raja dan Ratu
yang berbahagia, karena setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Ratu
melahirkan seorang Putri.
Raja dan Ratu mengundang 7 peri untuk
datang dan memberkati Putri yang baru saja lahir.
Dalam acara megah yang diselenggarakan
sebagai penghormatan kepada para peri itu,masing-masing memberikan berkat
kepada Sang Putri.
Peri pertama mengatakan
“Kamu akan menjadi Puteri tercantik di dunia.”Peri kedua mengatakan “Kamu akan
menjadi seorang Puteri yang periang.”Peri ketiga mengatakan “Kamu akan selalu
mendapatkan banyak kasih sayang.”Peri keempat mengatakan “Kamu akan dapat
menari dengan sangat anggun.”Peri kelima mengatakan “Kamu akan dapat bernyanyi
dengan sangat merdu.”
Peri keenam mengatakan “Kamu akan sangat pintar
memainkan alat musik.”
Tiba-tiba datang peri tua ke
tengah acara itu. Ia sangat marah karena tidak diundang. Semua orang memang
sudah lama tidak pernah melihat peri tua itu, dan mengira bahwa ia sudah
meninggal atau pergi dari kerajaan itu.
. 

Peri tua yang marah itu mendekati sang Puteri dan mengutuknya
“Jarimu akan tertusuk jarum pintal dan kamu akan mati!” dan kemudian peri tua
itu pun menghilang.Semua orang sangat terkejut. Ratu pun mulai menangis.
Peri ketujuh mendekati sang Puteri dan memberikan berkatnya “Aku
tidak bisa membatalkan kutukan, tapi aku dapat memberikan berkatku supaya
Puteri tidak akan mati karena terkena jarum pintal, melainkan hanya tertidur
pulas selama seratus tahun. Setelah seratus tahun, seorang Pangeran tampan akan
datang untuk membangunkannya.”
Raja dan Ratu merasa sedikit lega mendengarnya. Mereka lalu
mengeluarkan peraturan baru bahwa di kerajaan itu tidak boleh ada alat pintal
satu pun. Mereka menyita dan menghancurkan semua alat pintal yang ada di
kerajaan itu demi selamatan sang Puteri. Pada suatu hari disaat Puteri
berusia 18 tahun, Raja dan Ratu pergi sepanjang hari.
Karena kesepian, sang Puteri berjalan-jalan menjelajahi istana dan
sampai di sebuah loteng. Disana ia menjumpai seorang wanita tua yang sedang
memintal benang menggunakan alat pintal. Karena belum pernah melihat alat
pintal, sang Puteri sangat tertarik dan ingin mencoba.
Wanita tua itu sebenarnya adalah peri tua jahat yang dulu
mengutuknya. Saat sang Puteri mencoba alat pintal itu, ia pun dengan sengaja
menusukkan jarum pintal ke tangan sang Puteri.
Dalam waktu singkat pohon-pohon besar dan semak belukar yang lebat
dan berduri tumbuh di seluruh wilayah kerajaan, sehingga sangat sulit bagi
siapapun untuk menerobosnya. Bahkan puncak-puncak istana pun hanya dapat
terlihat ujungnya saja. Karena menjadi sangat tertutup, sang Puteri dan seluruh
kerajaan menjadi aman, walaupun mereka semua tertidur.
Setelah masa seratus tahun berakhir, seorang Pangeran tampan yang
kebetulan sedang berburu di dekat wilayah kerajaan itu melihat pucuk-pucuk
istana itu. Ia sudah banyak mendengar cerita tentang kerajaan itu, antara lain
tentang istana yang dianggap berhantu, para penyihir, dan cerita-cerita lain
yang sangat menyeramkan yang sebenarnya tidak benar.
Karena penasaran, saat kembali dari berburu sang Pangeran mencari
orang tua yang paling bijaksana dan pintar di kerajaan untuk menanyakan tentang
kerajaan tetangga yang penuh misteri itu.
Orang tua yang bijaksana itu lalu bercerita bahwa menurut
leluhurnya, di dalam istana di kerajaan yang misterius itu terbaring seorang
Puteri yang paling cantik di dunia, yang tertidur karena terkena kutukan dari
peri tua jahat. Sang Puteri akan terus tidur hingga ada seorang Pangeran yang
datang untuk membangunkannya.
Pangeran tampan yang pemberani itu lalu bergegas berangkat menuju
kerajaan misterius itu. Ia berniat untuk menyelamatkan sang Puteri. Sang
Pangeran berjuang menembus semak belukar dan pepohonan untuk dapat mencapai
kedalam wilayah kerajaan yang misterius itu.
Sesampainya disana, ia melihat banyak sekali orang dan
hewan peliharaan yang terbaring dimana-mana. Tetapi mereka tidak mati,
sepertinya mereka hanya tertidur sangat nyenyak. Pangeran lalu masuk ke
dalam istana. Disana ia pun melihat seluruh pegawai kerajaan yang tertidur
pulas.
Setelah berjalan-jalan menjelajahi istana itu, sang Pangeran
berhasil menemukan sang Puteri di sebuah kamar. Sang Pangeran terpesona oleh
kecantikan sang Puteri. Pangeran pun berlutut dan memegang tangan sang Puteri.
Saat itulah kutukan berakhir dan sang Puteri membuka matanya. Ia menyambut sang
Pangeran yang telah lama ia tunggu dengan bahagia.
Dalam waktu yang bersamaan seluruh penghuni istana dan seluruh
kerajaan terbangun. Semak belukar dan pepohonan menghilang. Semua orang kembali
mengerjakan urusan mereka masing-masing. Raja dan Ratu juga terbangun dan
segera menyambut sang Pangeran dari kerajaan tetangga itu.
Tak lama kemudian, sang Puteri dan sang Pangeran tampan menikah.
Mereka lalu hidup berbahagia selamanya.
Dahulu kala, di kota
Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu
hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian
laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak
Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan
yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia
malah dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, kalau tidak mau Aladin
akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya
melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api
dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. “Kraak…” tiba-tiba tanah
menjadi berlubang seperti gua.
Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. “Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu”, seru si penyihir. “Tidak, aku takut turun ke sana”, jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. “Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu”, kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. “Cepat berikan lampunya !”, seru penyihir. “Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar”, jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya “Brak!” pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. “Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !”, ucap Aladin.

Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. “Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu”, seru si penyihir. “Tidak, aku takut turun ke sana”, jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. “Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu”, kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. “Cepat berikan lampunya !”, seru penyihir. “Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar”, jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya “Brak!” pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. “Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !”, ucap Aladin.

Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. “Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan”, saya adalah peri cincin kata raksasa itu. “Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah.” “Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini”, ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. “Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan.”
Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. “Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?”, kata Ibu sambil menggosok membersihkan lampu itu. “Syut !” Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. “Sebutkanlah perintah Nyonya”, kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini memberi perintah,”kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami”. Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. “Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu”, kata si peri lampu.
Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. “Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya”. Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. “Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku.” Raja amat senang. “Wah…, anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku”.
Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. “Tuan, ini Istananya”. Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. “Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?”, Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.
Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, “tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !”. Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.
Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. “Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku”, seru Aladin. “Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu,” ujar peri cincin. “Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan kau kesana”, seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. “Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir”, ujar sang Putri. “Baik, jangan kuatir aku akan mengambil kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang”, jawab Aladin.
Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin kemudian mengambilnya dan segera menggosoknya. “Singkirkan penjahat ini”, seru Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu langsung membanting penyihir itu hingga tewas. “Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke Persia”. Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.
CINDERELLA
Di sebuah kerajaan, ada seorang anak perempuan yang
cantik dan baik hati. Ia tinggal bersama ibu dan kedua
kakak tirinya, karena orangtuanya sudah meninggal dunia.
Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh
perkerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi
makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya
yang jahat memanggilnya "Cinderela". Cinderela artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. "Nama yang cocok buatmu !" kata
mereka.
Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan
surat undangan pesta dari Istana. "Asyik! kita akan pergi dan berdandan secantikcantiknya.
Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira", kata mereka. Hari yang
dinanti tiba, kedua kakak tiri Cinderela mulai berdandan dengan gembira. Cinderela
sangat sedih sebab ia tidak diperbolehkan ikut oleh kedua kakaknya ke pesta di Istana.
"Baju pun kau tak punya, apa mau pergi ke pesta dengan baju sepert itu?", kata kakak
Cinderela.
Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderela kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeraskerasnya
karena hatinya sangat kesal. "Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor
seperti ini, tapi aku ingin pergi.." Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. "Cinderela,
berhentilah menangis." Ketika Cinderela berbalik, ia melihat seorang peri. Peri tersenyum
dengan ramah. "Cinderela bawalah empat ekor tikus dan
dua ekor kadal." Setelah semuanya dikumpulkan
Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke
kebun labu di halaman belakang. "Sim salabim!" sambil
menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikustikus
berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadalkadal
berubah menjadi dua orang sais. Yang terakhir,
Cinderela berubah menjadi Putri yang cantik, dengan
memakai gaun yang sangat indah.
cantik dan baik hati. Ia tinggal bersama ibu dan kedua
kakak tirinya, karena orangtuanya sudah meninggal dunia.
Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh
perkerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi
makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya
yang jahat memanggilnya "Cinderela". Cinderela artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. "Nama yang cocok buatmu !" kata
mereka.
Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan
surat undangan pesta dari Istana. "Asyik! kita akan pergi dan berdandan secantikcantiknya.
Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira", kata mereka. Hari yang
dinanti tiba, kedua kakak tiri Cinderela mulai berdandan dengan gembira. Cinderela
sangat sedih sebab ia tidak diperbolehkan ikut oleh kedua kakaknya ke pesta di Istana.
"Baju pun kau tak punya, apa mau pergi ke pesta dengan baju sepert itu?", kata kakak
Cinderela.
Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderela kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeraskerasnya
karena hatinya sangat kesal. "Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor
seperti ini, tapi aku ingin pergi.." Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. "Cinderela,
berhentilah menangis." Ketika Cinderela berbalik, ia melihat seorang peri. Peri tersenyum
dengan ramah. "Cinderela bawalah empat ekor tikus dan
dua ekor kadal." Setelah semuanya dikumpulkan
Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke
kebun labu di halaman belakang. "Sim salabim!" sambil
menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikustikus
berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadalkadal
berubah menjadi dua orang sais. Yang terakhir,
Cinderela berubah menjadi Putri yang cantik, dengan
memakai gaun yang sangat indah.

Karena gembiranya, Cinderela mulai menari berputar-putar dengan sepatu kacanya
seperti kupu-kupu. Peri berkata, "Cinderela, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah
lonceng pukul dua belas malam berhenti. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah
malam. "Ya Nek. Terimakasih," jawab Cinderela. Kereta kuda emas segera berangkat
membawa Cinderela menuju istana. Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula
istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderela. Mereka sangat
kagum dengan kecantikan Cinderela. "Cantiknya putri itu! Putri dari negara mana ya ?"
Tanya mereka. Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri Cinderela. "Putri yang cantik,
maukah Anda menari dengan saya ?" katanya. "Ya!," kata Cinderela sambil mengulurkan
tangannya sambil tersenyum. Mereka menari berdua dalam irama yang pelan. Ibu dan
kedua kakak Cinderela yang berada di situ tidak menyangka kalau putri yang cantik itu
adalah Cinderela.
Pangeran terus berdansa dengan Cinderela. "Orang seperti andalah yang saya idamkan
selama ini," kata sang Pangeran. Karena bahagianya, Cinderela lupa akan waktu. Jam mulai
berdentang 12 kali. "Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,". Cinderela menarik
tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari ke luar Istana.
Di tengah jalan, sepatunya terlepas sebelah, tapi
Cinderela tidak memperdulikannya, ia terus berlari.
Pangeran mengejar Cinderela, tetapi ia kehilangan jejak
Cinderela. Di tengah anak tangga, ada sebuah sepatu kaca
kepunyaan Cinderela. Pangeran mengambil sepatu itu. "Aku
akan mencarimu," katanya bertekad dalam hati. Meskipun
Cinderela kembali menjadi gadis yang
penuh debu, ia amat bahagia karena bisa pergi pesta.
Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran datang ke rumah-rumah yang ada anak
gadisnya di seluruh pelosok negeri untuk mencocokkan sepatu kaca dengan kaki mereka,
tetapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya para pengawal tiba di rumah Cinderela.
"Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu
kaca ini," kata para pengawal.
Kedua kakak Cinderela mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka
tetap memaksa kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal
melihat Cinderela. "Hai kamu, cobalah sepatu ini," katanya. Ibu tiri Cinderela menjadi
marah," tidak akan cocok dengan anak ini!". Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya.
Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. "Ah! Andalah Putri itu," seru pengawal gembira.
"Cinderela, selamat..," Cinderela menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya.
"Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.," katanya.
Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang Putri yang
memakai gaun pengantin.
Kedua kakak Cinderela mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka
tetap memaksa kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal
melihat Cinderela. "Hai kamu, cobalah sepatu ini," katanya. Ibu tiri Cinderela menjadi
marah," tidak akan cocok dengan anak ini!". Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya.
Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. "Ah! Andalah Putri itu," seru pengawal gembira.
"Cinderela, selamat..," Cinderela menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya.
"Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.," katanya.
Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang Putri yang
memakai gaun pengantin.

"Pengaruh sihir
ini tidak akan
hilang walau jam berdentang dua belas kali", kata sang
peri. Cinderela diantar oleh tikus-tikus dan burung yang
selama ini menjadi temannya. Sesampainya di Istana,
Pangeran menyambutnya sambil tersenyum bahagia.
Akhirnya Cinderela menikah dengan Pangeran dan hidup
berbahagia.
hilang walau jam berdentang dua belas kali", kata sang
peri. Cinderela diantar oleh tikus-tikus dan burung yang
selama ini menjadi temannya. Sesampainya di Istana,
Pangeran menyambutnya sambil tersenyum bahagia.
Akhirnya Cinderela menikah dengan Pangeran dan hidup
berbahagia.
Mbok Sirni namanya, ia seorang janda yang menginginkan
seorang anak agar dapat
membantunya bekerja. Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang
anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan ke
raksasa itu untuk disantap. Mbok Sirnipun setuju.
Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan
dirawat. Setelah dua minggu diantara buah ketimun
yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan
berkilau seperti emas. Kemudian Mbok Sirni
membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya
seorang bayi cantik yang diberi nama Timun Emas.
Semakin hari Timun Emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa
untuk menagih janji. Mbok Sirni amat takut kehilangan Timun Emas, dia mengulur janji
agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa, semakin enak untuk disantap,
raksasa pun setuju. Mbok Sirnipun semakin sayang pada Timun Emas, setiap kali ia
teringat akan janinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih.
Suatu malam Mbok Sirni bermimpi, agar anaknya
selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul.
Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu
seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan
kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam, dan terasi
sebagai penangkal. Sesampainya di rumah diberikannya
4 bungkusan tadi kepada Timun Emas, dan disuruhnya
Timun Emas berdoa.
membantunya bekerja. Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang
anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan ke
raksasa itu untuk disantap. Mbok Sirnipun setuju.
Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan
dirawat. Setelah dua minggu diantara buah ketimun
yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan
berkilau seperti emas. Kemudian Mbok Sirni
membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya
seorang bayi cantik yang diberi nama Timun Emas.
Semakin hari Timun Emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa
untuk menagih janji. Mbok Sirni amat takut kehilangan Timun Emas, dia mengulur janji
agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa, semakin enak untuk disantap,
raksasa pun setuju. Mbok Sirnipun semakin sayang pada Timun Emas, setiap kali ia
teringat akan janinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih.
Suatu malam Mbok Sirni bermimpi, agar anaknya
selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul.
Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu
seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan
kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam, dan terasi
sebagai penangkal. Sesampainya di rumah diberikannya
4 bungkusan tadi kepada Timun Emas, dan disuruhnya
Timun Emas berdoa.

Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun Emaspun disuruh keluar lewat
pintu belakang oleh Mbok Sirni. Raksasapun mengejarnya. Timun Emaspun teringat akan
bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang
mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya. Tapi buah timun itu malah
menambah tenaga raksasa. Lalu Timun Emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlah
pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah
raksasa terus mengejar. Timun Emaspun membuka bingkisan garam
dan ditaburkannya. Seketika hutanpun menjadi lautan luas.
Dengan kesakitan raksasa dapat melewatinya.

Yang
terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika
terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya
raksasapun mati. "Terimakasih Tuhan, Engkau telah
melindungi hambamu ini" Timun Emas mengucap syukur.
Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan
damai.
terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika
terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya
raksasapun mati. "Terimakasih Tuhan, Engkau telah
melindungi hambamu ini" Timun Emas mengucap syukur.
Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan
damai.
TELAGA
BIDADARI
Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia
bernama Awang Sukma.
Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka
macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan
pohon yang sangat besar. Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di
hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar
Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah
kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih
dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yang
rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis
burung dan serangga hidup dengan riangnya. "Hmm, alangkah
indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan keindahan
yang luar biasa," gumam Datu Awang Sukma.
Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup
serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di
sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma
mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma
ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air.
"Mungkinkah mereka itu para bidadari?" pikir Awang Sukma.
Tujuh gadis cantik itu tidak
sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang
digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut
terletak di dekat Awang Sukma. "Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan
selendang di pohon itu," gumam Datu Awang Sukma.
Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masingmasing.
Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka
macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan
pohon yang sangat besar. Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di
hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar
Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah
kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih
dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yang
rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis
burung dan serangga hidup dengan riangnya. "Hmm, alangkah
indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan keindahan
yang luar biasa," gumam Datu Awang Sukma.
Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup
serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di
sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma
mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma
ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air.
"Mungkinkah mereka itu para bidadari?" pikir Awang Sukma.
Tujuh gadis cantik itu tidak
sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang
digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut
terletak di dekat Awang Sukma. "Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan
selendang di pohon itu," gumam Datu Awang Sukma.
Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masingmasing.

Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri
yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu,
Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya. "Jangan takut tuan putri,
hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba," bujuk Datu Awang
Sukma. Putri Bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun
karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima
pertolongan Awang Sukma.
Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan
Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah
seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu
Awang Sukma sangat bahagia.
Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan
Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah
seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu
Awang Sukma sangat bahagia.
Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas
permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya
tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. "Apa kirakira
isinya ya?" pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan
berteriak gembira. "Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya
erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang
pada suaminya.
Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. "Kini saatnya
aku harus kembali!," katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan
selendangnya sambil menggendong bayinya. Datu Awang
Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat
dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu
menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma
menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. "Kanda,
dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik," kata Putri
Bungsu kepada Datu Awang Sukma." Pandangan Datu Awang Sukma
menerawang kosong ke angkasa. "Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji
kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan
lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya," ujar Putri Bungsu.
Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika
terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menatap sedih
dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya
memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa
PUTRI
MELATI WANGI
Di sebuah kerajaan, ada seorang putri yang bernama Melati
Wangi. Ia seorang putri yang
cantik dan pandai. Di rumahnya ia selalu menyanyi. Tetapi sayangnya ia seorang yang
sombong dan suka menganggap rendah orang lain. Di rumahnya ia tidak pernah mau jika
disuruh menyapu oleh ibunya. Selain itu ia juga tidak mau jika disuruh belajar memasak.
"Tidak, aku tidak mau menyapu dan memasak nanti tanganku kasar dan aku jadi kotor",
kata Putri Melati Wangi setiap kali disuruh menyapu dan belajar memasak.
Sejak kecil Putri Melati Wangi sudah dijodohkan dengan seorang pangeran yang bernama
Pangeran Tanduk Rusa. Pangeran Tanduk Rusa adalah seorang pangeran yang tampan dan
gagah. Ia selalu berburu rusa dan binatang lainnya tiap satu bulan di hutan. Karena itu ia
dipanggil tanduk rusa.
Suatu hari, Putri Melati Wangi berjalan-jalan di taman. Ia
melihat seekor kupu-kupu yang cantik sekali warnanya. Ia
ingin menangkap kupu-kupu itu tetapi kupu-kupu itu segera
terbang. Putri Melati Wangi terus mengejarnya sampai ia
tidak sadar sudah masuk ke hutan. Sesampainya di hutan,
Melati Wangi tersesat. Ia tidak tahu jalan pulang dan
haripun sudah mulai gelap.
cantik dan pandai. Di rumahnya ia selalu menyanyi. Tetapi sayangnya ia seorang yang
sombong dan suka menganggap rendah orang lain. Di rumahnya ia tidak pernah mau jika
disuruh menyapu oleh ibunya. Selain itu ia juga tidak mau jika disuruh belajar memasak.
"Tidak, aku tidak mau menyapu dan memasak nanti tanganku kasar dan aku jadi kotor",
kata Putri Melati Wangi setiap kali disuruh menyapu dan belajar memasak.
Sejak kecil Putri Melati Wangi sudah dijodohkan dengan seorang pangeran yang bernama
Pangeran Tanduk Rusa. Pangeran Tanduk Rusa adalah seorang pangeran yang tampan dan
gagah. Ia selalu berburu rusa dan binatang lainnya tiap satu bulan di hutan. Karena itu ia
dipanggil tanduk rusa.
Suatu hari, Putri Melati Wangi berjalan-jalan di taman. Ia
melihat seekor kupu-kupu yang cantik sekali warnanya. Ia
ingin menangkap kupu-kupu itu tetapi kupu-kupu itu segera
terbang. Putri Melati Wangi terus mengejarnya sampai ia
tidak sadar sudah masuk ke hutan. Sesampainya di hutan,
Melati Wangi tersesat. Ia tidak tahu jalan pulang dan
haripun sudah mulai gelap.

Akhirnya setelah terus berjalan, ia menemukan sebuah gubuk yang biasa digunakan para
pemburu untuk beristirahat. Akhirnya Melati Wangi tinggal digubuk tersebut. Karena
tidak ada makanan Putri Melati Wangi terpaksa memakan buah-buahan yang ada di hutan
itu. Bajunya yang semula bagus, kini menjadi robek dan compang camping akibat
tersangkut duri dan ranting pohon. Kulitnya yang dulu putih dan mulus kini menjadi hitam
dan tergores-gores karena terkena sinar matahari dan duri.
Setelah sebulan berada di hutan, ia melihat Pangeran Tanduk Rusa datang sambil
memanggul seekor rusa buruannya. "Hai Tanduk Rusa, aku Melati Wangi, tolong antarkan
aku pulang," kata Melati Wangi. "Siapa? Melati Wangi? Melati wangi seorang Putri yang
cantik dan bersih, sedang engkau mirip seorang pengemis", kata Pangeran Tanduk Rusa.
Ia tidak mengenali lagi Melati Wangi. Karena Melati Wangi
terus memohon, akhirnya
Pangeran Tanduk Rusa berkata," Baiklah, aku akan membawamu ke Kerajaan ku".
Setelah sampai di Kerajaan Pangeran Tanduk Rusa. Melati Wangi di suruh mencuci,
menyapu dan memasak. Ia juga diberikan kamar yang kecil dan agak gelap. "Mengapa
nasibku menjadi begini?", keluh Melati Wangi. Setelah satu tahun berlalu, Putri Melati
Wangi bertekad untuk pulang. Ia merasa uang tabungan yang ia kumpulkan dari hasil
kerjanya sudah mencukupi. Sesampainya di rumahnya, Putri Melati Wangi disambut
gembira oleh keluarganya yang mengira Putri Melati Wangi sudah meninggal dunia.
Sejak itu Putri Melati Wangi menjadi seorang putri yang rajin.
Ia merasa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga selama
berada di hutan dan di Kerajaan Pangeran Tanduk Rusa.
Akhirnya setahun kemudian Putri Melati Wangi dinikahkan
dengan Pangeran Tanduk Rusa. Setelah menikah, Putri Melati
Wangi dan Pangeran Tanduk Rusa hidup berbahagia sampai hari
tuanya.
Pangeran Tanduk Rusa berkata," Baiklah, aku akan membawamu ke Kerajaan ku".
Setelah sampai di Kerajaan Pangeran Tanduk Rusa. Melati Wangi di suruh mencuci,
menyapu dan memasak. Ia juga diberikan kamar yang kecil dan agak gelap. "Mengapa
nasibku menjadi begini?", keluh Melati Wangi. Setelah satu tahun berlalu, Putri Melati
Wangi bertekad untuk pulang. Ia merasa uang tabungan yang ia kumpulkan dari hasil
kerjanya sudah mencukupi. Sesampainya di rumahnya, Putri Melati Wangi disambut
gembira oleh keluarganya yang mengira Putri Melati Wangi sudah meninggal dunia.
Sejak itu Putri Melati Wangi menjadi seorang putri yang rajin.
Ia merasa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga selama
berada di hutan dan di Kerajaan Pangeran Tanduk Rusa.
Akhirnya setahun kemudian Putri Melati Wangi dinikahkan
dengan Pangeran Tanduk Rusa. Setelah menikah, Putri Melati
Wangi dan Pangeran Tanduk Rusa hidup berbahagia sampai hari
tuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar